A.
RELASI
Relasi ialah aturan
yang dapat menghubungkan disetiap anggota himpunan A ke himpunan B. Dimana A
dapat disebut domain (daerah asal) dan B disebut kodomain (daerah kawan).
Relasi pada himpunan A ke himpunan B ialah hubungan yang memasangkan
anggota-anggota himpunan A pada anggota-anggota himpunan B. Dalam mengerjakan
soal relasi dapat dikerjakan menggunakan tiga metode yaitu diagram panah,
diagram cartesius, dan juga himpunan pasangan berurutan.
Contoh:
Tentukanlah relasi yang dapat menghubungkan himpunan P ke himpunan Q berikut ini!
P={1, 2, 3, 4, 5} dan Q={1, 4, 9, 16, 25}
Penyelesaian:
Relasi yang dapat menghubungkan antara himpunan P ke himpunan Q adalah “akar dari”.
Tentukanlah relasi yang dapat menghubungkan himpunan P ke himpunan Q berikut ini!
P={1, 2, 3, 4, 5} dan Q={1, 4, 9, 16, 25}
Penyelesaian:
Relasi yang dapat menghubungkan antara himpunan P ke himpunan Q adalah “akar dari”.
1.
Cara Menyajikan Relasi dan Diagram Panah
Relasi yang
menghubungkan himpunan yang satu dengan himpunan lainnya dapat disajikan dalam
beberapa cara, yaitu diagram panah, diagram kartesius, dan himpunan pasangan
berurutan. Perhatikan uraian berikut ini!
Rani, Dian,
Isnie, dan Dila sedang berbincang-bincang di sebuah taman dekat sekolah. Mereka
sedang membicarakan olahraga kegemarannya masing-masing.
Rani menyukai
olahraga bulu tangkis dan basket. Dian menyukai olahraga basket dan atletik,
Isnie menyukai olahraga senam dan Dila menyukai olahraga basket dan tenis meja.
Misalkan
himpunan P = {Rani, Dian, Isnie, Dila} dan Q = {Basket, Bulu Tangkis, Atletik,
Senam, Tenis Meja}. Kata “menyukai” adalalah relasi yang menghubungkan himpunan
P dan himpunan Q.
Maka relasi
tersebut dapat disajikan dalam bentuk berikut ini.
Diagram Panah
Anggota-anggota
himpunan P berelasi dengan anggota himpunan Q dengan relasi “menyukai”. Hal
tersebut ditunjukkan dengan arah panah. Oleh karena itu, diagramnya disebut
diagram panah.
Diagram Kartesius
Diagram
kartesius merupakan diagram yang terdiri atas sumbu X dan sumbu Y. Pada diagram
kartesius, anggota himpunan P terletak pada sumbu mendatar (sumbu-X), sedangkan
anggota himpunan Q terletak pada sumbu tegak (sumbu-Y). Relasi yang
menghubungkan himpunan P dan Q ditunjukkan dengan noktah atau titik seperti
terlihat pada gambar di bawah ini.
Himpunan
Pasangan Berurutan
Selain
menggunakan diagram panah dan kartesius, sebuah relasi yang menghubungkan
himpunan yang satu dengan himpunan lainnya dapat disajikan dalam bentuk
himpunan pasangan berurutan. Adapun cara penulisannya adalah anggota himpunan P
ditulis pertama, sedangkan anggota himpunan Q menjadi pasangannya. Berdasarkan
soal di atas, maka diperoleh himpunan pasangan berurutan sebagai berikut.
{(Rani, basket), (Rani, bulu tangkis), (Dian, basket), (Dian, atletik), (Isnie,
senam), (Dila, basket), (Dila, tenis meja)}.
2.
Sifat-sifat Relasi
Sifat Reflekatif
Misalkan R sebuah relasi yang didefinisikan pada himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat refleksif jika untuk p € P berlaku (p, p) € R. Contoh : Diberikan Himpunan P = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan hasil adalah himpunan S = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3), (3, 3), (3, 2)}. Relasi R tersebut bersifat reflektif sebab setiap angggota himpunan P berpasangan atau berelasi dengan dirinya sendiri.
Misalkan R sebuah relasi yang didefinisikan pada himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat refleksif jika untuk p € P berlaku (p, p) € R. Contoh : Diberikan Himpunan P = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan hasil adalah himpunan S = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3), (3, 3), (3, 2)}. Relasi R tersebut bersifat reflektif sebab setiap angggota himpunan P berpasangan atau berelasi dengan dirinya sendiri.
Sifat Simetris
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat simetris, apabila untuk setiap (x, y) € R berlaku (y, x) € R. Contoh : Diberikan himpunan P ={1, 2, 3}. Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan R ={(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (2, 1), (3, 1), (3, 3)}. Relasi R tersebut bersifat simetris untuk setiap (x,y) € R, berlaku (y,x) € R.
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat simetris, apabila untuk setiap (x, y) € R berlaku (y, x) € R. Contoh : Diberikan himpunan P ={1, 2, 3}. Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan R ={(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (2, 1), (3, 1), (3, 3)}. Relasi R tersebut bersifat simetris untuk setiap (x,y) € R, berlaku (y,x) € R.
Sifat Transitif
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R bersifat Transitif, apabila untuk setiap (x, y) € R dan (y, z) € R maka berlaku (x, z) € R. Contoh : Diberikan himpunan P ={1, 2, 3}. Didefinisikan relasi pada himpunan P dengan hasil relasi adalah himpunan R= {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (2, 1), (3, 1), (3, 3)}. Relasi R tersebut bersifat Transitif sebab (x, y) € R din (y, z) € R berlaku (x, z) € R.
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R bersifat Transitif, apabila untuk setiap (x, y) € R dan (y, z) € R maka berlaku (x, z) € R. Contoh : Diberikan himpunan P ={1, 2, 3}. Didefinisikan relasi pada himpunan P dengan hasil relasi adalah himpunan R= {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (2, 1), (3, 1), (3, 3)}. Relasi R tersebut bersifat Transitif sebab (x, y) € R din (y, z) € R berlaku (x, z) € R.
Sifat Antisimetris
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat antisimetris, apabila untuk setiap (x, y) € R dan (y, x) € R berlaku x = y. Contoh : Diberikan himpunan C = {2, 4, 5}. Didefinisikan relasi R pada himpunan C dengan R = {(a, b) € a kelipatan b, ab € C} sehingga diperoleh R = {(2, 2), (4, 4), (5, 5), (4, 2)}. Relasi R tersebut bersifat antisimetris.
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat antisimetris, apabila untuk setiap (x, y) € R dan (y, x) € R berlaku x = y. Contoh : Diberikan himpunan C = {2, 4, 5}. Didefinisikan relasi R pada himpunan C dengan R = {(a, b) € a kelipatan b, ab € C} sehingga diperoleh R = {(2, 2), (4, 4), (5, 5), (4, 2)}. Relasi R tersebut bersifat antisimetris.
Sifat Ekuivalensi
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R disebut relasi ekivalensi jika dan hanya jika relasi R memenuhi sifat refleksif, simetris, dan transitif. Contoh : merupakan relasi ekivalensi himpunan P = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi pada himpunan P dengan R={(1, 1),(1, 2),(2, 2),(2, 1),(3, 3)}. Relasi R tersebut bersifat refleksif, simetris dan transitif. Oleh karena itu relasi R merupakan relasi ekivalensi.
Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R disebut relasi ekivalensi jika dan hanya jika relasi R memenuhi sifat refleksif, simetris, dan transitif. Contoh : merupakan relasi ekivalensi himpunan P = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi pada himpunan P dengan R={(1, 1),(1, 2),(2, 2),(2, 1),(3, 3)}. Relasi R tersebut bersifat refleksif, simetris dan transitif. Oleh karena itu relasi R merupakan relasi ekivalensi.
3. Contoh Soal dan Penyelesaian
Pertanyaan : Jika Siska menyukai
sepakbola, Liya menyukai voli dan basket dan Berli menyukai basket dan
sepakbola. Buatlah relasi himpunan pasangan berurutan!Penyelesaian :
{(Siska, sepakbola)}, {(Liya, voli)}, {(Liya, basket)}, {(Berli, basket)}, {(Berli, sepakbola)}
Pertanyaan : Himpunan P = {2, 3, 4, 6} dan Q = {1, 2, 3, 4, 6, 8} dan “faktor dari” merupakan relasi yang menghubungkan antara himpunan P ke himpunan Q. Buatlah relasi ke bentuk himpunan pasangan berurutan!
Penyelesaian : {(2, 2)}, {(2, 4)}, {(2, 6)}, {(2, 8)}, {(3, 3)}, {(3, 6)}, {(4, 4)}, {(4, 8)}, {(6, 6)}
B. FUNGSI
Fungsi, dalam istilah matematika adalah pemetaan setiap anggota sebuah
himpunan (dinamakan sebagai domain) kepada anggota himpunan yang lain
(dinamakan sebagai kodomain). Istilah ini berbeda pengertiannya dengan kata
yang sama yang dipakai sehari-hari, seperti “alatnya berfungsi dengan baik.”
Konsep fungsi adalah salah satu konsep dasar dari matematika dan setiap ilmu
kuantitatif. Istilah “fungsi”, “pemetaan”, “peta”, “transformasi”, dan “operator”
biasanya dipakai secara sinonim. Anggota himpunan yang dipetakan dapat berupa
apa saja (kata, orang, atau objek lain), namun biasanya yang dibahas adalah
besaran matematika seperti bilangan riil. Contoh sebuah fungsi dengan domain
dan kodomain himpunan bilangan riil adalah y = f(2x), yang menghubungkan suatu
bilangan riil dengan bilangan riil lain yang dua kali lebih besar. Dalam hal
ini kita dapat menulis f(5) = 10.
Berikut adalah
sifat-sifat fungsi:
Fungsi injektif, fungsi f: A → B disebut fungsi satu-satu atau fungsi injektif jika dan hanya jika untuk sebarang a1 dan a2 dengan a1 tidak sama dengan a2 berlaku f(a1) tidak sama dengan f(a2). Dengan kata lain, bila a1 = a2 maka f(a1) sama dengan f(a2).
Fungsi surjektif, fungsi f: A → B disebut fungsi kepada atau fungsi surjektif jika dan hanya jika untuk sembarang b dalam kodomain B terdapat paling tidak satu a dalam domain A sehingga berlaku f(a) = b. Dengan kata lain, suatu kodomain fungsi surjektif sama dengan kisarannya (range).
Fungsi bijektif, fungsi f: A → B disebut disebut fungsi bijektif jika dan hanya jika untuk sebarang b dalam kodomain B terdapat tepat satu a dalam domain A sehingga f(a) = b, dan tidak ada anggota A yang tidak terpetakan dalam B. Dengan kata lain, fungsi bijektif adalah sekaligus injektif dan surjektif.
1. Domain, Kodomain, dan Range
Domain disebut juga dengan daerah asal, kodomain daerah kawan sedangkan range adalah daerah hasil.
contoh :
Diketahui himpunan P = { 1, 2, 3, 4 } dan himpunan Q = {2, 4, 6, 8, 10, 12 }
Relasi dari himpunan P ke himpunan Q dinyatakan dengan " setengah dari ".
Jika relasi tersebut dinyatakan dengan himpunan pasangan berurutan menjadi :
{ (1, 2),(2, 4),(3, 6),(4, 8) }.
Relasi di atas merupakan suatu fungsi karena setiap anggota himpunan P mempunyai tepat satu kawan anggota himpunan Q.
Dari fungsi di atas maka :
Domain/daerah asal = himpunan P = { 1, 2, 3, 4 }
Kodomain/daerah kawan = himpunan Q = { 2, 4, 6, 8, 10, 12 }
Range/daerah hasil = { 2, 4, 6, 8 }
2. Contoh Soal dan Penyelesaian
Diberikan dua buah fungsi:
f(x) = 3x2 + 4x + 1
g(x) = 6x
Tentukan:
a) (f o g)(x)
b) (f o g)(2)
Pembahasan
Diketahui:
f(x) = 3x2 + 4x + 1
g(x) = 6x
a) (f o g)(x)
= 3(6x)2 + 4(6x) + 1
= 108x2 + 24x + 1
b) (f o g)(2)
(f o g)(x) = 108x2 + 24x + 1
(f o g)(2) = 108(2)2 + 24(2) + 1
(f o g)(2) = 432 + 28 + 1 = 461
Diketahui f(x) = x2 + 1 dan g(x) = 2x − 3, maka (f
o g)(x) = ....
A. 4x2 − 12x + 10
B. 4x2 + 12x + 10
C. 4x2 − 12x − 10
D. 4x2 + 12x − 10
E. − 4x2 + 12x + 10
(Dari soal Ebtanas Tahun 1989)
Pembahasan
f(x) = x2 + 1
g(x) = 2x − 3
(f o g)(x) =.......?
Masukkan g(x) nya ke f(x)
(f o g)(x) =(2x − 3)2 + 1
(f o g)(x) = 4x2 − 12x + 9 + 1
(f o g)(x) = 4x2 − 12x + 10
C. PROPOSISI
1. Konsep Dasar Notasi
Proposisi adalah kalimat deklaratif
yang bernilai benar (true) atau salah (false), tetapi tidak
keduanya. Secara simbolik, proposisi biasanya dilambangkan dengan huruf kecil
seperti p, q, r dan sebagainya. Misalnya, p : 6
adalah bilangan genap
Untuk mendefinisikan p sebagai proposisi “6
adalah bilangan genap”. Begitu juga dengan :
q : Larry Page dan Sergey Brin adalah penemu Google .
r : 2 + 2 = 4. dan sebagainya.
2. Contoh Proposisi
- Semarang ialah Ibukota provinsi Jawa Tengah. (Proposisi yang
bernilai benar karena Semarang ialah Ibukota Jawa Tengah).
- Soekarno ialah Presiden Pertama Republik Indonesia.
- 13 adalah bilangan ganjil.
- 1 + 1 = 2.
- 5 + 7 = 10 (Proposisi yang bernilai salah).
- x + 5 = 11 (Bukan proposisi, karena “x” belum ditentukan).
3. Contoh Soal dan Penyelesaian
Ingkaran dari
pernyataan “Beberapa bilangan prima adalah bilangan genap” adalah....
A. Semua bilangan prima
adalah bilangan genap.
B. Semua bilangan prima
bukan bilangan genap.
C. Beberapa bilangan
prima bukan bilangan genap.
D. Beberpa bilangan
genap bukan bilangan prima.
E. Beberapa bilangan
genap adalah bilangan prima.
(Soal UN Matematika Tahun 2008 P12)
Pembahasan
p : Beberapa bilangan
prima adalah bilangan genap
~p : Semua bilangan
prima bukan bilangan genap
Daftar
Pustaka:
http://matematikastudycenter.com/kelas-11-sma/80-fungsi-komposisi-dan-komposisi-fungsi#ixzz34WvqRXvl